Total Tayangan Halaman

Minggu, 26 April 2009

F1 Malaysia Memang Panas

Jangan kaget kalau datang ke Malaysia, khususnya Sirkuit Sepang di bulan April. Udara sedang panas-panasnya tetapi bisa mendadak turun hujan.
Dari rangkaian jalan2 di Negeri Pak Cik ini, kami mendapat kursi kusus di Grand Stand Sirkuit Sepang yang kebetulan menggelar balapan Seri Kedua F1 di akhir pekan (5 April 2009). Di tribun yang terletak di sepanjang lintasan pacu dan start ini, semua bisa dilihat. Meski kurang bisa mengkover tantangan di setiap tikungan, ya syukur2 kami bisa menonton.

Kalau menonton dan bayar tiket sendiri, aduh harga tiketnya gila2-an mahalnya

Tetapi panasnya persaingan tim-tim dan pembalap F1 tidak satu-satunya yang tersaji. Di luar lintasan pun panas, dan kami pun merasakan dari 'dekat' panasnya F1 Malaysia.

Mulai dari fans Ferrari yang bertingkah aneh2, sampai yang tidak tahan dengan panasnya cuaca sampai memakai baju lumayan mini. Wanita2 dengan busana stripped sudah umum terlihat. Tidak percaya? Lihat saja.

Di Kaki Menara Petronas







Dari mana saya memulainya? Eh ya, dari bawah menara Petronas. Setelah berputar-putar ke lokasi yang ditentukan dalam jadwal, maka Kamis (2/4) kami diboyong ke Petronas juga. Kebetulan di sana ada fans meeting dengan pembalap dari Tim Williams-Sauber F1. Ramai acaranya sih, tetapi tidak semeriah ketika Felipe Massa dan Kimi Raikkonen jumpa fans di saat yang sama di Pavillion Hotel, jalan Bukit Bintang, KL.
Whatever, menelusuri bagian dalam menara Petronas jadi jauh lebih menarik ketimbang menonton jumpa fans. Kami pun masuk lewat pintu depan, dan tujuannya jelas yaitu naik ke jembatan penghubung di lantai 41.
Di luar perkiraan kami, penjagaan di pintu masuk sangat ketat. Untuk masuk, kami turun dari lantai 1 ke ground level (jadi tepat di bawah fondasi dua menara yang beratnya ribuan ton itu), untuk memesan tiket masuk ke lift yang akan membawa kami ke jembatan 41.
Ya...antreannya lumayan panjang karena yang ingin melihat menara itu bukan hanya saya dan teman2 yang bergaya udik dari Indonesia (hehehehehehehehe)
Lucunya, setelah melalui porter pertama, kami tidak langsung naik lift. Tetapi dibawa ke ruang ornamental dan replika yang berisi berbagai informasi mengenai sejarah pembangunan menara.

Semua disajikan dalam bentuk visual (televisi, visual grafis dan kartun), game dan berbagai pengetahuan di dalamnya.

Semua mengemas dalam paket wisata, di mana Petronas adalah salah satunya.
Sebagai info, pemasukan malaysia dari sektor wisata tahun 2008 lalu mencapai 46 miliar RM (1 RM = Rp 3.200). Petronas menempati urutan ketiga kunjungan terbesar wisata selain paket wisata bahari dan balapan F1 di Sepang (akan saya bahas di entri berikutnya.
==
Setelah puas berlama-lama menjadi murid TK di ruang bawah, kami pun naik dengan lift ke lantai 41. Saking cepatnya lift naik, telinga sampai berdenging (untuk peringatan, kalau kecepatan tinggi begini disarankan membawa air mineral dan sering2 minum spy udara tidak memenuhi telinga).
Di jembatan 41 yang menjadi favorit turis di menara itu, saya bisa melihat hampir seluruh kota KL. Termasuk menara tertinggi KL, KL Tower (ingat, petronas adalah menara KEMBAR TERTINGGI DUNIA).
Tetapi momen yang dinanti sudah pasti mengabadikan kenangan dengan berfoto2 di bawah menara kembar. Untung saya pernah sedikit2 lihat fotografer motret jadi bisa meminta bantuan Henri (teman dari SBY) agar mengambil gambar saya tanpa memotong gambar menaranya.
Hasilnya oke juga, henri sangat berbakat. Dan thx juga buat Miss X yang membantu mengambil foto saya....(bersambung)

Menggali secuil Nagara Siti Nurhalizah

ADA sedikit cerita saat saya diundang mengikuti Mega Fam F1 oleh Malaysian Tourism Board, 1-6 April lalu.

Tidak ada yang membuat saya heran kecuali ketika mengetahui bahwa Menara Kembar Petrona yang merupakan menara kembar tertinggi di dunia (world's highest double-decked tower) ternyata dibangun atas konsep sederhana.



Bangunan prestisius dan angkuh ini dibangun Petronas Malaysia, perusahaan kilang minyak nasional di negara itu.

Mengapa dibuat kembar, saya jadi teringat menara kembar WTC di New York AS. Apakah dibangun untuk menyaingi WTC dan sekarang menjadi satu-satunya menara kembar tertinggi dunia (Sejak tragedi 11 September 2001 itu!!!).
O ya kembali pada konsep. Menara itu, dua-duanya memiliki fondasi bersudut delapan sesuai jumlah arah mata angin. Ini seperti filosofi Asia timur China, Persia dan Arab kuno yang menyebutkan bahwa delapan arah mata angin itu dipadukan dari satu titik yang membentuk keseimbangan.
Bagus juga pemikiran orang Malaysia, modernisasi teknologi infrastruktur dipadukan ciri khas ketimuran yang filosofis.

Bersama rombongan yang terdiri tiga wartawan (termasuk saya dari Surya), Bipi (Delta FM Jakarta), Pak Berthol (Suara Pembaruan), dua teman dari biro travel Surabaya dan Jakarta, plus seorang wakil MTB Jakarta, kami diajak mengunjungi menara berwarna silver itu.
Dari dekat, tidak cukup mendongak untuk melihat kemegahan bangunan buatan manusia ini. Harus mundur...mundur...mundur dan mundur. Tetapi hati-hati di depannya ada kolam besar dan air muncrat. Bisa-bisa tercebur kalau terus mundur sambil mendongak.
Tidak mau disebut udik, nih. Saya dan teman-teman ambil angle foto dari jarak kira2 1 kilometer di depan pintu masuk menara. Memang, menara terlihat jauh tetapi bisa menjadi background bagus untuk berpose.
Saya juga sempat (di foto atas) naik ke lantai 41 dan masuk ke jembatan penghubung dua menara itu. (bersambung)