Total Tayangan Halaman

Kamis, 11 Desember 2008

JANGAN PERNAH LUPA


SALAM HORMAT
Rekan-rekan pasti tidak akan lupa dengan sosok di samping ini.
Ya, sejak SD dan beberapa generasi sebelum kita pun tahu betapa populernya (alm) Soeharto, Bapak Pembangunan yang namanya juga tercatat dalam sejarah Orde Baru.
Ini sekadar memutar kembali roda waktu sejarah bahwa negeri ini pernah dipimpin seorang yang dianggap besar dan disegani di satu sisi, namun juga dibenci di sisi lain.
Kita yang lahir di masa Orde Baru pun menikmati berbagai kebijakannya di negara ini dan masih ingat bagaimana slogan yang sebenarnya bisa dibilang sukses seperti Indonesia negara berswasembada beras, diakui aktif berperan di pelbagai segi aktivitas dunia.
Saya jadi ingat bagaimana (alm) Soekarno, Bapak Proklamasi yang sepertinya mirip-mirip nasibnya dengan Soeharto (secara kebetulan nama depan mereka adalah 'Soe' yang artinya 'Baik'.), di mana dikagumi karena keberaniannya menantang penjajah, disegani negara-negara di dunia dan berani keluar dari PBB.
Tetapi pada akhirnya Bung Karno melalui hari-hari sepi masa tuanya di Wisma Yaso sampai menghadapi Penciptanya.
Sedangkan Soeharto yang melalui masa tuanya karena sakit, bisa menikmati apa yang dilakukannya di negara ini dengan perawatan dokter terbaik dan fasilitas rumah sakit terbaik pula serta menutup mata dengan tenang.
Sekarang, apakah ada anak-anak kita yang mengingat kedua tokoh itu? Bung Karno diketahui generasi sekarang dari buku-buku pelajaran sekolah dengan semua jejak sejarah yang membuat negara ini pernah menjadi sorotan di masa pascakemerdekaan.
Saya teringat lirik lagu yang pernah dipopulerkan Ahmad Albar sekitar tahun 1970-an, kita-kira begini bunyinya,
"Seakan Tak Pernah Dia Berjasa/Seakan Dia Makhluk Tak Berguna/
Namun Kata Sejarah/ Tak Akan Pernah Hilang/
Walau Dihapuskan/
Suatu Saat 'Kan Tiba/ Matamu Kan Terbuka/
Tinggal Sesal dan Kesan.....
Di masa sekarang sepertinya sesuatu yang berkaitan dengan Orde Baru dan Soeharto begitu menakutkan. Masa-masa penuh pengekangan dan terjeratnya kebebasan, di balik suksesnya pertumbuhan pembangunan pertanian dan industri.
Belakangan, fobia terhadap Orde Baru itu tidak lepas dari sosok Sang Jenderal Besar yang fotonya terpampang di atas.
Saya tidak memuji atau membesar-besarkan jasa-jasa Soeharto. Tetapi sejujurnya, kalau mau menengok ke belakang, saya lahir ketika penjajahan tinggal sejarah, kemiskinan seperti angin lalu, masa di mana mudah mencari pekerjaan, era ketika anak-anak generasi baru seperti Generasi Bunga yang menyapa dunia dengan sendok yang disodorkan ke mulutnya dengan penuh nasi.
Menukil lirik lagu tadi, mungkin ada sebersit sesal mengapa sekarang tidak seperti era lalu. Maksud saya, boleh tidak ada situasi ketidakbebasan berekspresi seperti era Orde Baru, tetapi mengapa semua menjadi begitu sulit dan tidak menentu.
Harga-harga komoditas dan kebutuhan mendasar rakyat kecil begitu melangit, BBM melambung bahkan minyak tanah pun nyaris jauh dari jangkauan kantong-kantong saku yang kian tipis.
Belum lagi biaya pendidikan yang bak meraih surga, sebagian politisi yang menjadi wakil rakyat bertarung demi memperebutkan kursi.
Selama beberapa tahun terakhir, politik menjadi panglima. Ini tidak berbeda dengan beberapa tahun setelah kemerdekaan ketika jumlah parpol di era Soekarno berjumlah puluhan (sehingga kalau pemilih ingin mencoblos di bilik suara bingung bagaimana membuka kertas suara yang begitu besaaaar!).
Hal itu akan terulang sekarang. Jumlah parpol peserta pemilu 2009 ada 34 plus empat di Nangroe Aceh Darussalam. Ini imbas dari terbukanya keran demokrasi (ala Amerika?) yang memberi keleluasaan bagi kelompok dan ormas untuk membentuk parpol.
Bahkan pemimpin yang terpilih empat atau delapan tahun lalu, sudah langsung terfokus pada bagaimana merancang kemenangan di empat tahun berikutnya.
Di era Soeharto, yang diklaim hanya dua parpol plus Golkar. Itu masa penuh penindasan, kalau boleh kita sebut begitu karena belum ada ruang untuk membuat parpol baru.
Tetapi semakin sedikit yang ada, maka pilihannya semakin mudah. Pemilih akan mencoblos, kalau tidak nomor satu ya nomor dua atau tiga. Gitu aja kok repot!
Sekali lagi ini bukan membandingkan dengan tujuan memuji masa lalu. Cuma sekadar mengingatkan. Sebagian dari kita yang di masa muda pernah didorong rasa idealisme setelah sedikit tahu demokrasi, seakan begitu serius melihat sosok Sang Jenderal hanya dari sisi kelabunya.
Tidak perlu terlalu melebar. Kita melihat tetangga kiri kanan, apakah ada yang tanpa sadar berkata,"Coba masa Soeharto, masih enak cari kerja. Semua gak rumit."
Beberapa hari sebelum memposting tulisan ini, saya sempat nongkrong di warkop tegalsari, di depan rumah makan Ria, dan mendengarkan percakapan beberapa orang tua.
"San, tampaknya Prabowo (mantan Danjen Kopassus) punya peluang besar untuk menang (terpilih menjadi presiden)," seorang bapak tua berkata kepada orang di sebelahnya.
"Itu jelas, karena ia didikan langsung mantan mertuanya itu. Tetapi sekarang kan lain. Banyak pesaing. Prabowo ketok e kejem ngono. Coba Prabowo menang, wah gak onok demo aneh-aneh sing nggawe rusak dalan. Polisi opo tentara macem-macem dicatut sakdurunge nggawe masalah," sahut sebelahnya.
Pak tua mengangguk,"Repot yo saiki. Kepingin koyo mbiyen kabeh gampang tapi wedi karo gayane Prabowo. Tapi politisi sak ini sak enake dhewe. Durung kepilih gayane ngendek-ngendek nang wong cilik. Wis kepilih malah bablas, gak gelem nyopo blas."
Perbincangan terbatas itu hanya sekelumit kegetiran sekaligus sepercik harapan bahwa Prabowo bisa mengulangi apa yang dilakukan Soeharto. Di sisi lain, kita tidak mau ada tekanan seperti masa lalu.(Ini bukan kampanye hitam lho, sungguh, nanti dikira jurkamnya Gerindra hehehehe...).
Sebaiknya ini menjadi cermin bagi kita semua bahwa tidak ada gunanya mencerca apa yang sudah terjadi. Orang bijak mengatakan, masa lalu adalah kenangan, sekarang adalah perjuangan dan hidup adalah untuk masa depan. Tetapi semua tetap berlandaskan masa lalu sebagai hikmah dan pelajaran....

1 komentar:

Alis Tuwek mengatakan...

Wah kalo aku tetap konsisten..rek. Untuk selalu katakan buruk jika itu buruk, bejat jika itu bejat, rusak jika itu rusak...sesakit apapun itu. Lha emang betul, sejarah telah sering berulang, bagaimana para arif (atau yang dibuat seolah arif, krn pesanan) memimpin republik tercinta ini, atau para bermocorah bisa tampil dengan gemilang. Itulah potret bangsa ini, dalam memilih dan mendudukan dan mempertahankan panguwasane! Aku gak bingung, gak setres, apalagi sedih. Wong emang itu keinginan orang banyak kok...termasuk yang mau melupakan sejarah, itu ya dibiarkan..mereka memang maunya begitu. Yang mau menghujat, ya mangga kalo memang yakin hatinya berkata itu adalah tindakan terbaik yang bisa diberikan. Kalo aku, ya sesekali aja, ngomel, dan seringkali minta sama Yang di Atas Sana..untuk kedamaian republik tercinta ini.